Iklan

Empat Warga Nyaris Jadi Bulan Bulanan Timses di PALI

10 Desember 2020, Kamis, Desember 10, 2020 WIB Last Updated 2020-12-12T12:46:53Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


POSMETRO, PALI - Dua warga Pali nyaris jadi bulan-bulanan sekelompok orang yang diduga relawan salah satu Paslon Pilkada PALI 2020. Peristiwa bermula ketika tiga  warga, AG (21), RG (24) dan HK Mengenderai kenderaan roda empat dalam sebuah perjalanan menuju Sumberejo Ujung dari Talang Ubi, Selasa (08/12/2020). Ke Sumber Rejo, keduanya ingin menemui temannya Ega yang kebenaran sedang berada di rumah mertuanya di Sumberejo.


Dalam perjalanan malam itu, ketiga warga ini hampir nyasar. Sadar mereka salah jalan, keduanya pun mencoba memutar arah. Nah kasusnya bermula saat kedua warga memutar arah, dan tak lama kemudian mereka disetop oleh sekelompok orang yang tak dikenal.


Untuk diketahui, Disaat-saat genting malam pencoblosan di PALI, seluruh tim sukses memang siaga satu. Merasa ada yang aneh dengan ketiga warga ini, sekelompok orang mengatasnamakan "Satgas Anti Politik Uang" mencoba menghentikan laju kenderaan AG. 


Dituduh sebagai Timses salah satu Paslon, AG, HK dan RG pun diminta turun dari kenderaannya. Tak cukup sampai disitu, bak pemeriksaan resmi petugas, kedua warga ini langsung di interogasi sembari membentak. AG, HK dan RG ditiuduh seolah bagian dari Timses salah satu Paslon yang mencoba melakukan Money Politic atau membagi-bagikan uang kepada warga untuk memilih salah satu paslon atau dalam bahasa awamnya, ketiga warga tersebut dituduh sebagai pelaku "Serangan Fazar" sehingga harus mendapatkan pengamanan ketat dari Satgas Anti Politik Uang yang juga merupakan bagian dari salah satu Paslon peserta Pilkada di PALI.

"Kami diintrogasi oleh mereka, lalu di suruh turun mobil di geledah, identitas di periksa, HP disita dalam mobil hanya di temukan plat merah BG 1491 PZ. Tidak  ada uang dan amplop saat di geledah di lokasi," cerita Ag saat ditemui usai buat laporan di Polres bernomor LP/B/-103/XII/2020/SUMSEL/Res PALI, Kamis (10/12/2020)


Kemudian lanjut AG,  mereka diperintahkan turun, lalu di pukul dengan menggunakan tangan kosong oleh diduga Dc dan kawan-kawan. "Posisi malam itu gelap. Saya merasa malam itu saya dipukul lebih dari satu orang. Di bagian leher, Badan bagian belakang dan kepala bagian belakang ada lebih dari lima kali," ujar Ag.


Kepada Petugas di Polres PALI, AG an kedua rekannya mengaku tidak tahu pelaku berasal dari mana. Hanya saja ia melihat ada banyak kenderaan roda empat dan salah satunya bertuliskan SATGAS ANTI POLITIK UANG.  "Kami di tuduh oleh pelaku membagi-bagikan uang. Padahal tidak bahkan amplop yang disisukan berisi uang ditemukan dalam mobil bukanlah milik kami.  Yang pasti, kami merasa dijebak, mereka periksa tidak ada amplop sebelumnya. Mobil kami lalu di bawak oleh pelaku ke Bawaslu"paparnya ke Petugas.


Sementara saat di Bawaslu  mobilnya kembali di periksa. Saat pemeriksaan dilakukan di dalam dasbor mobil ada amplop. Dia kaget amplop 9 buah berisi uang ada isi Rp 200 ribu dan Rp 100 ribu. "Itu sebelumnya tidak ada di Mobil. Itu sungguh tidak masuk akal. Jelas itu bukan milik kami" ujarnya.


Dikatakan, penemuan amplop berisi uang tersebut asli sabotase. "Bukan punya kami amplop berisi uang itu, saya pastikan itu sabotase dan di jebak, dan saya di minta buka amplop itu oleh Bawaslu. Kami tidak bawak uang dan tidak bagi-bagikan uang. Kami bukan timses," tegasnya.


Masih kata Ag,  atas kejadian itu, dirinya dan rekanya merasa jadi korban penganiayaan dan jadi korban jebakan atas amplop  yang diduga money politik. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk melaporkan pelaku penganiayaan, pengeroyokan dan ini jelas  Fitnah (pencemaran nama baik)  terkaiylt amplop money politik, dalam petistiwa ini berharap polisi bisa mengusut pelaku pengeroyokan dan juga ini jelas  sabotase diduga meletakan amplop berisi uang dalam mobil saya. Ini jelas nama baik saya tercemar, saya tidak ada kaitanya money politik ,"  pungkas Ag.


Sementara itu, Kapolres PALI melalui Kasatreskrim Polres PALI, AKP Rahmad Kusneidi S.Kom didampingi  Kanit Pidum Ipda Arzuan SH, membenarkan pihaknya tElah menerima laporan terkait dugaan penganiayaan dan pengeroyokan. 


"Saat ini laporan masih dalam pemeriksaan dan pengembangan lebih lanjut. Terkait dugaan sabotase amplop adalah rangkaian laporan korban kasus dugaan penganiayaan, laporan sudah kita terima dan kita proses," terangnya.

Komentar

Tampilkan

Terkini