-->

Iklan

Menilik Rumah Adat Bahi Sengkuang Yang Nyaris Punah

11/08/20, 09:15 WIB Last Updated 2020-08-11T08:18:45Z
masukkan script iklan disini

POSMETRO, LAHAT - Bumi Ataran Mulak Ulu merupakan aset Wisata dan peninggalan Purbakala yang saat ini masih terjaga dengan baik. Salah satunya Rumah Adat Limas yang masih berdiri kokoh. Deretan Rumah Limas dengan arsitektur lokal mengingatkan kita pada masa-masa kejayaan desa dengan segudang sejarah dan kearifan lokal yang mendunia.

Namun seiring perputaran waktu yang bengis dan sombong, rumah bersejarah Limas tersebut nyaris punah tergilas moderenisasi perubahan zaman. Regenerasi  penerus yang diharapkan mampu mempertahankan kearifan lokal dan sejarah arsitektur nenek moyang, ternyata luluh dengan moderenisasi. Nama rumah Limas kini pun terancam punah ditelan zaman.

Mengunjungi Desa Ataran Mulak Ulu kami berhasil menemukan salah satu warga generasi ke tiga yang tinggal di rumah Bahi desa setempat. Rumah Bahi berusia ratusan tahun ini ditinggali Bahilan Kepala urusan (Kaur) Pembangunan Desa Sengkuang. Dahulu kala rumah ini di huni seorang pemuka desa yang paling dihormati pada zamannya dan hingga kini tampak masih terawat dengan baik.

Senin 10 Agustus 2020, beberapa jurnalis bersama  rombongan Camat Mulak Ulu dan Forum Komunikasi pimpinan kecamatan (Forpimca) bertandang kerumah ini dalam ramgka menghadiri Monitoring dan evaluasi Desa. Dalam kegiatan tersebut ada sesuatu hal yang yang unik dan khas kami temukan. Kearifan lokal zaman dulu masih terjaga dengan apik di desa ini. Salah satunya ialah adat penyambutan tamu kehormatan.

Kedatangan kami dan rombongan ke desa ini disambut begitu hangat oleh tetua dan tokoh adat desa. Selain itu, kadatangan kami ke desa ini seusai penyambutan langsung disungguhi Air Puan atau Minuman Susu putih murni tanpa warna. 

Situasi ramah tamah Pemuka desa dan Forpimca di desa ini langsung kami manfaatkan menggal informasi seputar rumah bahi. Seperti diceritakan empunya rumah Bahi Bahilan. Ia menceritakan rumah yang ditinggalinya dengan keluarga saat ini sudah berumur ratusan tahun.

Arsitektur kuno pada era 20 an silam masih melekat pada bangunan rumah bahi ini. Salah satunya atap rumah yang terbuat dari gelumpai. Gelumpai sendiri berbahan baku bambu yang dirakit sedemikian rupa agar mampu menjadi pelindung penghuni rumah dari terik matahari dan hujan.

Soal kualitas, gelumpai mampu bersaing dengan bahan bangunan modern saat ini seperti genteng, multy roof dan lainnnya. Atap gelumpai diperkirakan mampu bertahan hingga puluhan tahun dari terpaan hujan dan panas. Begitu, ke arifan dan tehnologi yang di miliki desa kini tidak lagi dipertahankan. Bahkan rumah Bahi di desa ini sudah mulai punah dimakan zaman.

"Ini juga sudah kami tawarkan untuk dijual karena kontur bangunan yang terlalu tinggi. Nantinya setelah laku akan kami ganti dengan rumah biasa yang sederhana" ujar Bahilan. 

Tidak dapat dipungkiri, arsitektur kuno meski sarat dengan sejarah dengan mudah ditinggalkan mengikuti trend kekinian dengan segala kecanggihan yang ditawarkan. Ibarat kenderaan, manusia justru berloma-lomba ingin memiliki varian baru dengan segudang kemudahan dan kecanggihan tehnologi yang dimiliki meski sebagian kecil masih ada yang bertahan dengan gaya klasik dan unik dengan mempertahankan model jadulnya. 

Itulah hidup dengan segudang permasalahan yang kerap mengganjal dan menghadang saat melangkah kedepan. Tak terkecuali Rumah Bahi yang hingga kini masih tetap bertahan ditengah perkembangan zaman seperti gedung bertingkat dan apartemen mewah di pusat kota yang diharapkan akan terus tegap berdiri melewati era dan menjadi saksi sejarah perkembangan zaman dan kemajuan arsitekur modern untuk anak cucu kedepan. (nid)

Komentar

Tampilkan

Terkini

Pemerintahan

+
-->