News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

"Tuntut Penghapusan Sistem Ousourcing"

"Tuntut Penghapusan Sistem Ousourcing"

Ratusan Buruh Pertamina Prabumulih Turun ke Jalan

PRABUMULIH, PM - Tidak kurang dari 500 orang buruh kontrak dari berbagai perusahaan rekanan Pertamina EP. Region Sumatera di Prabumulih Kamis (05/07) kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor General Manager Pertamina bawah Kemang Prabumulih. Aksi unjuk rasa ini sedianya menuntut penghapusan sistem outsorcing, meminta upah layak Nasional, serta menuntut perlindungan keselamatan tenaga kerja. Bahkan untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai buruh, para pengunjuk rasa terpaksa harus mendirikan tenda di depan kantor pertamina tepatnya disimpang empat bawah kemang Prabumulih sebagai posko utama.


”Sistem outsourching itu sangat kejam dan sudah selayaknya diubah. Sistem outsourching juga sangat merugikan buruh, karena buruh mendapatkan perlakuan yang berbeda padahal pekerjaan yang dilakukan sama beratnya dengan karyawan. Buruh harusnya bisa mendapatkan hak-hak normatif yang sama dengan karyawan. Kami menolak sistem kerja kontrak dan berharap bisa ditinjau kembali. Selain itu kami juga menuntut upah layak nasional, karena UMK (Upah Minimum Kabupaten) yang ada sudah sangat tidak layak,” ujar sang orator dengan pengeras suara.

Tidak mendapat tanggapan dari Pihak Pertamina setelah melakukan orasi, para buruh pun melakukan aksi turun ke jalan menuju kawasan kompleks perumahan  pertamina untuk menemui pihak manajemen yang bisa menampung aspirasi para buruh. Namun sangat disayangkan, gerbang menuju kompleks perumahan dan perkantoran Pertamina telah lebih dulu di tutup portal oleh petugas PKD pertamina dan di blokade oleh anggota kepolisian Resort Prabumulih.

Akibatnya, jalan Sudirman pun lumpuh beberapa saat dan kenderaan yang melintas terpaksa dialihkan oleh petugas untuk berbalik arah karna jalan telah dipenuhi pengunjuk rasa. Tidak diberikannya kesempatan kepada buruh masuk ke dalam, pengunjuk rasa terpaksa berorasi di depan pintu gerbang kompleks Pertamina.

Dalam orasinya mereka menuntut, PT.Pertamina EP Prabumulih dan PT.Pertagas untuk tidak melakukan tindakan berupa PHK dan tindakan balas dendam dalam bentuk apapun seperti sanksi dan mutasi kepada seluruh tenaga kerja di lingkungan Pertamina Prabumulih yang ikut serta dalam aksi mogok kerja dan unjuk rasa sepanjang aksi yang dilakukan masih sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu, para buruh juga menuding PT.Pertamina yang memberlakukan sistem kerja outsourcing telah menyalahi UU tenaga kerja No 13 Tahun 2003. Untuk itu para buruh menuntut agar PT.Pertamina dan PT.Pertagas Prabumulih menghapus sistem kerja kontrak dan Outsourcing serta meminta PT.Pertamina memberikan undangan tertulis kepada Forum Outsoucing Area Sumbagsel untuk menghadiri pertemuan negosiasi pengahpusan sistem kerja kontrak, Outsourcing dan pengupahan layak di Jakarta bersama SBI, SPM, Dwikora dan SBMK (KASBI).

Selain tuntutan terhadap PT.Pertamina, para buruh juga menuding Pemerintah Kota Prabumulih sangat bobrok dan tidak peduli dengan nasib para buruh. Para buruh mengaku bahwa mereka telah salah memilih Walikota selama ini. Dikatakan bahwa pemerintah yang sekarang ini adalah Pemerintah yang tidak memiliki hati nurani dan buta terhadap penderitaan masyarakat. Tidak lupa dalam aksi unjuk rasa tersebut, sang orator dengan dengan alat pengeras suara kepada warga Prabumulih mengharapkan untuk tidak memilih Pejabat yang buta terhadap penderitaan rakyat.

Pantauan Koran ini dilapangan, Aksi Para buruh yang mengatasnamakan dirinya Serikat Buruh Bersatu Prabumulih (SBBP) ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian Resort Prabumulih. Sepertiga kekuatan yang dimiliki polres Prabumulih terpaksa di terjunkan untuk mengawal aksi unujuk rasa para buruh. Pasalnya, lokasi tempat mereka melakukan aksi unjuk rasa adalah kawasan yang telah di tetapkan sebagai objek vital nasional.

Hingga berita ini diturunkan, tuntutan ratusan buruh PT.Pertamina Prabumulih belum mendapatkan jawaban dari Instansi terkait. Pihak Management Pertamina belum bersedia menemui perwakilan pengunjuk rasa dengan alasan yang tidak jelas. Akibatnya, aksi anarkis dengan membobol pintu gerbang nyaris di lakukan pengunjuk rasa. Beruntung aksi tersebut dapat dihentikan oleh rekan yang lain dan pengunjuk rasa kembali dengan tertib ke posko utama di simpang empat bawah kemang Prabumulih.

Perwakilan pengunjuk rasa Arafat (34) kepada wartawan disela-sela demo mengungkapkan bahwa aksi tersebut tidak akan berhenti sebelum pihak Pertamina memenuhi tuntutan yang mereka ajukan. Bahkan Arafat mengancam jika unjuk rasa ini tidak mendapat tanggapan, pihaknya akan menurunkan massa yang elbih banyak lagi. Hal ini juga lanjutnya telah di koordinasikan dengan Forum Outsoucing Area Jakarta. "Jika Tuntutan kita tidak ditanggapi mereka yang dari Jakarta akan turun ke Prabumulih untuk melakukan aksi yang sama" tegasnya. pm/01

Tags

Minat Bergabung

Kirimkan CV anda ke redaksi Posmetro dibawah ini atau ke klikosmetro@gmail.com.