-->

Iklan

Pemerintah Teriak Lawan Corona Tapi TKA China Masuk Terus ke Muara Enim

junmanurung
30/09/20, 18:36 WIB Last Updated 2020-09-30T11:36:35Z
masukkan script iklan disini


POSMETRO, MUARA ENIM - Pemberitaan terkait kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) China tengah pandemi COVID-19 menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Situasi tersebut oleh sebagian masyarakat dianggap kurang sensitif mengingat saat ini banyak tenaga kerja Indonesia di dalam negeri di berbagai sektor harus mengalami PHK atau di rumahkan. Masuknya TKA ini menjadi persoalan yang sensitif di tengah pandemi yang mengguncang dunia ketenagakerjaan Indonesia.


Polemik juga terjadi karena puluhan TKA yang didatangkan tersebut tidak jelas statusnya, apakah sebagai tenaga ahli atau pekerja biasa. 


Seperti yang terpantau di Muara Enim Sumatera Selatan. Kehadiran 38 orang TKA asal China di PLTU Sumsel 1, Desa Tanjung Menang, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim mendapat protes keras warga Desa Belimbang Jaya, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Muara Enim.


Mengapa tidak, ditengah situasi ekonomi yang tidak menentu dan persoalan Covid-19 yang belum hilang, Daerah ini kedatangan tamu asal China yang nota bene sumber dari virus covid-19 untuk bekerja pula dengan waktu yang tidak jelas.


Meski secara legalitas kedatangan TKA asal China ini memiliki dokumen lengkap, warga setempat mengaku kedatangan TKA saat warga negara Indonesia (WNI) banyak yang membutuhkan pekerjaan dinilai kurang tepat.


"Saat ini WNI sendiri banyak yang terdampak Covid-19 secara ekonomi lantaran sebagian perusahaan dalam negeri terpaksa merumahkan para pekerjanya," ujar Pohan Maulana pengamat Politik dan Kebijakan Publik Sumsel. Dikatakan, saat seperti ini seharusnya penanaman modal asing bermanfaat untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi WNI dan tenaga kerja lokal. "Jika investasi asing justru mempekerjakan TKA, berarti investasi itu tidak memiliki added value atau nilai tambah," tegasnya.



Ia mengingatkan, Pemerintah pusat harus peka terhadap persolan warga. Keluhan dan penolakan masyarakat terhadap TKA asal China itu murni sebagai aspirasi berkenaan dengan penanggulangan Covid-19. "Penolakan TKA ini juga didukung adanya grafik persebaran Covid-19 yang masih menunjukkan pertambahan, baik jumlah pasien positif maupun yang meninggal akibat virus tersebut" pungkasnya.


Ditempat terpisah, Kepala Kantor Imigrasi (Kakanim) Kelas II Muara Enim melalui Kasubsi Intel Kantor Imigrasi Kelas II Muara Enim, Adep yang dikonfirmasi terkait kedatangan TKA asal China di Muara enim ini mengaku bahwa izin kedatangan 38 TKA China tersebut lengkap secara adiministrasi.


“38 TKA yang datang itu dukomennya lengkap termasuk paspor, Kartu Izin tinggal Terbatas (Kitas), Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) dari Menteri Ketenagakerjaan,” ujar Kasubsi Intel Kantor Imigrasi Kelas II Muara Enim, Adep, Selasa (29/9).



Secara adiministrasi dan dokumen, kata dia, semuanya lengkap. Sebelum 38 TKA datang ke PLTU Sumsel 1 pihak manajemen perusahaan sudah melaporkan ke Kantor Imigrasi Kelas II Muara Enim.


“38 TKA tersebut semua tenaga ahli. Namun kehadiran 38 TKA, pihak perusahaan melakukan sosialisasi atau tidak ke pemerintahan kecamatan maupaun desa, kita tidak tahu sehingga terjadi miskomunikasi antara perusahaan dengan masyarakat yang melakukan penyetopan kendaraan yang membawa 38 TKA tersebut,” jelasnya.


Megenai jumlah keberadaan tenaga kerja asing di Kabupaten Muara Enim, lanjutnya, per awal September di PLTU Sumsel 1 ada 58 orang TKA ditambah 38 orang TKA baru datang. Kemudian jumlah TKA di PLTU Sumsel 8 ada 430 orang TKA dan semuanya memiliki dokumen lengkap.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Pemerintahan

+
-->