-->

Iklan

Potret Kelaparan di Kabupaten Kaya Raya, Pemerintah Bantah Tidak Ada Perhatian

23/04/20, 01:15 WIB Last Updated 2020-04-22T18:48:53Z
masukkan script iklan disini




POSMETRO, GELUMBANG - Seolah tidak mau disalahkan, Pemerintah Muara Enim dari tingkatan terendah hingga Bupati masih saja saja berupaya cuci tangan dengan mengatakan kedua saudara kandung Deluna (27) dan Rohima (24) warga dusun II Desa Sebau Kecamatan Gelumbang tidak mendapat perhatian Pemerintah.

Kedua kakak adik ini ditemukan tak sengaja oleh Anggota Babinsa dan Babinkamtibmas Gelumbang saat penyaluran bantuan sembako kepada warga terdampak Covid-19 dalam keadaan memprihatinkan. Keduanya lemah tak berdaya akibat belum makan entah sudah berapa hari di rumahnya yang sangat sederhana tanpa perabotan dan alat memasak.

Potret Kelaparan di Negeri kaya raya Muara Enim ini sempat menghebohkan jagad dunia maya karena Videonya viral di media sosial, Rabu (22/04/2020) . Bagi siapa saja yang melihatnya dijamin hatinya pasti tersayat pilu. Mengapa tidak, tinggal di daerah kaya dengan berbagai sumber daya alam ternyata tidak menjamin seluruh warganya sejahtera. Kasus Deluna dan Rohima mungkin adalah kasus yang terlihat dan bisa jadi Deluna lainnya masih banyak di Muara Enim.

Potret dua warga kelaparan dan nyaris almarhum itu, sejauh ini bertahan hidup berkat belas kasihan para tetangga yang merasa iba dengan kondisi keduanya. Deluna dan adiknya makan dari makanan yang diberikan para tetangga sekitar.

Saat anggota babinsa dan babinkamtibmas mendatangi keduanya, Rohima reflek langsung menyodorkan tangannya untuk meminta nasi. Ia, Rohima mau barang yang bisa langsung dimakan. Justru kalau diberi sembako, kedua kakak adik itu malah bingung karna tidak memiliki peralatan untuk mengolah sembako agar bisa dimakan.

Lantaran bantuan yang dibawa babinsa dan babinkamtibmas hanya berupa sembako dan tidak bisa langsung dimakan, maka Aparat keamanan itupun langsung mencarikan nasi untuk dimakan kedua kakak beradik itu.

Untuk diketahui,viralnya potret kelaparan Muara Enim di media sosial belakangan ini tidak lain berkat kunjungan yang dilakukan oleh anggota babinsa dan babinkamtibmas saat memberi bantuan. Salah Seorang aparatur Desa diyakini merekam kegiatan pembagian Paket Sembako di wilayah Gelumbang yang mereka laksanakan. Dan tak lama video tersebutpun tersebar hingga seantero bumi dan viral di media sosial.

Tak ingin kecolongan, akhirnya jajaran Kepolisian, TNI dan Pemerintah setempat langsung turun tangan untuk mengevakuasi keduanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gelumbang.

Unsur Tripika Gelumbang yang membawa kedua kakak beradik malang ini adalah  Camat Gelumbang Syarkowi, SSos, Danramil 404-01 Gelumbang, Mardin, SE, Kapolsek Gelumbang AKP Priyatno, SH, SIK, dan Kepala UPTD Puskesmas Gelumbang Musadat, SKM, ikut serta Ponira, SH.

Kemudian, anggota DPRD Kabupaten Muara Enim, Samudra Kelana serta TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) Kecamatan Gelumbang, H Amrullah, SIp, dan Kepala Samsat Muaraenim II Gelumbang, Agus Firmansyah, SE menyusul ke lokasi hingga ke RSUD Gelumbang.

Menanggapi Potret warga kelaparan di Kecamatan Gelumbang, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Muara Enim Drs Bakti melalui, TKSK Kecamatan Gelumbang, H Amrullah, SIp membantah bahwa keduanya tidak mendapat perhatian.

Amrullah menjelaskan, kedua kakak beradik ini salah satu keluarga menerima manfaat PKH dan BPNT dengan nama pengurus katagori nomor peserta 16030901004973 anggota yakni Amaladi (bukan kategori), Daluna (ketagori disabilitas mental), dan Rohima (katagori disabilitas mental).

“Kalau informasi mereka tidak mendapat bantuan sama sekali dari pemerintah itu hoax dan tidak benar. Keluarga tersebut sudah terdata dalam daftar penerima bantuan tetap dari pemerintah” kata Amrullah kepada media, Rabu (22/04/2020).

Menurutnya, mereka itu memang yatim piatu, dan mereka empat bersaudara, yaitu Amaladi (29), Deluna (27), Rohima (24) dan Ilhami (19).

Mereka adalah anak dari Yusupi (almarhum) dan Siti Halimah (almarhumah) semuanya warga Dusun II, Desa Sebau, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muaraenim.

Amrullah mengungkapkan, Ilham diadopsi oleh salah satu warga di Desa Sebau dekat tempat tinggalnya, sedangkan ketiga orang lainnya tetap di rumahnya yang merupakan rumah bantuan dari pemerintah desa dan warga setempat.

“Mereka selain masuk di KPM jaring pengaman sosial yaitu PKH dan program sembako, mereka juga mendapatkan bantuan program bapak Bupati yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk anak yatim piatu dan lansia terlantar setiap bulannya, berhubung mereka cacat mental ada perwakilan dari pihak keluarganya menerima bantuan tersebut untuk mereka,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Desa Sebau, Supriyadi, ia membantah jika keduanya terlantar. Menurutnya, mereka sudah lama mendapatkan bantuan, dan setiap ada bantuan mereka mendapatkannya, baik itu PKH, BPNT dan bantuan lainnya.

“Bahkan para tetangga mereka juga sering memberi mereka, baik makan maupun pakaian, dan itu rumah juga hasil dari program bedah rumah pemerintah. Mereka mengalami keterbelakangan mental dan tidak ada pihak keluarga yang merawatnya,” pungkasnya.

Ditempat terpisah, pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Pohan Maulana menyayangkan kelalaian aparatur Pemerintah tingkat bawah. "Itu buktinya nyaris mati kok masih bantah tidak ada perhatian. Jika benar ada perhatian tidak mungkin keduanya kelaparan" ujarnya.

Jika benar mendapat perhatian, lanjut Pohan, kondisi Deluna dan Rohima tidak akan separah itu, Kepala Desa yang lebih dekat dengan warganya tentu sangat memahami kondisi dan situasi di desanya termasuk warganya. "Sebayak apapun bantuan yang diberikan kepadanya jika sarana pendukung seperti peralatan memasak tidak tersedia sama saja bohong bantuan dan perhatian yang dimaksud" tegas Pohan.


Komentar

Tampilkan

Terkini

Pemerintahan

+
-->