HEADLINE NEWS

Kasus Sengketa Lahan SD 24/06 Bakal Berbuntut Panjang

POSMETRO, PABUMULIH - Kasus sengketa lahan SDN 24 dan 06 Kota Prabumulih dipastikan bakal berbuntut panjang. Pasalnya, pasca penyegelan sekolah oleh ahli waris kamis kemarin (29/08/2019), kedua belah pihak bersengkata yakni ahli waris dan Pemerintah Kota Prabumulih sempat bersepakat damai.

Perundingan damai tersebut dilakukan di kantor Pemkot Prabumulih. Ada pihak Polres Prabumulih disebut sebagai fasilitator untuk mencari jalan tengah agar kasus sengketa lahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan antara kedua belah pihak.

Menurut ahli waris melalui penasehat hukumnya Jeferson SH, pasca penyegelan sekolah, kedua belah pihak sempat bertemu dan bermediasi di Kantor Pemkot Prabumulih pagi menjelang siang. Pemerintah Kota Prabumulih yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Elman, ST MM dalam perundingan pasca penyegelan awalnya telah bersedia melakukan pembayaran terhadap objek lahan bersengketa sesuai harga pasar nilai jual objek pajak (NJOP).

"Dalam perundingan tersebut saya ada ditempat. Namun soal penentuan harga klien saya yang teelibat langsung. Hasilnya saat itu, klien kita bersedia menurunkan setengah harga dari harga pasar NJOP. Namun begitu, Sekda mengaku belum bisa memutuskan dan masih menunggu persetujuan Walikota Prabumulih selaku atas langsung Sekda. Artinya soal biaya ganti objek bersengketa dalam bentuk rupiah sudah ada nilai yang ditawarkan. Kita siap menunggu dan menindaklajuti sejauh mana hasil pertemuan tersebut" ujarnya.

Sayangnya, perundingan soal harga lahan sengketa SDN 24 dan 06 diduga tidak akan menemukan titik terang. Pasalnya, pihak Pemerintah Kota Prabumulih berbalik arah dari perundingan dan berniat mengadukan ahli waris ke pihak Kepolisian Prabumulih dengan kasus dugaan pengerusakan aset Pemerintah berupa gedung pendidikan.

Rencana pengaduan dugaan kasus tindak pidana pengerusakan ini juga dibenarkan oleh Pemkot Prabumulih melalui Kabag Hukum Sanjay SH.

"Ia harusnya tadi. Penasehat hukum Pemkot Prabumulih sudah ke Polres. Namun karna di Polres ada Wasrik Polri, pengaduan hari ini ditunda. Laporan kembali dilakukan Senin (02/09/2019). Laporannya dugaan tindak pidana pengrusakan" ujar Sanjay.

Menyoal langkah Pemkot Prabumulih akan berbalik dari perundingan, ternyata sudah diantisipasi oleh Ahli Waris. Ahli waris menduga Pemkot tidak pernah konsisten dalam menyikapi setiap permasalahan.

"Sebelumnya juga kita sudah banyak menerima masukan bahwa Pemkot dibawah pimpinan Walikota sekarang plin plan dalam mengambil kebijakan. Hari ini A besok bisa berubah ke X. Kan dari dulu juga begitu hingga kasus ini berlarut selama 9 tahun. Tidak masalah mereka mengadukan kita ke Pihak Berwajib. Intinya upaya penyegelan kita lakukan tidak lebih dari mempertahankan hak atas lahan yang didalam objek bersengketa berdiri gedung milik pemerintah" ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik dan  kebijakan Publik Kota Prabumulih Pohan Maulana SH, menghimbau kedua belah pihak secepatnya berdamai demi kenyamanan siswa atau murid murid di sekolah tersebut untuk belajar. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada kejelasan hukum, yang menjadi korban tidak lain adalah generasi penerus bangsa yang notabene putra dan putri Kota Prabumulih.

"Mengingat kasusnya perdata memang prosesnya banyak menyita waktu, pemikiran dan energi. Harapan kita secepatnya kedua belah pihak segera berunding mencari jalan terbaik. Dengan kasus ini, kita juga menghimbau Pemerintah untuk secepatnya menginventarisir semua aset milik pemerintah, membenahi dengan kekuatan hukum agar terhindar dari gugatan-gugatan pihak lain seperti kasus yang sekarang sedang berlangsung" ujarnya.

Kemudian lanjut dia, termasuk rencana pendirian gedung baru dari lahan hibah masyarakat untuk segera disertifikatkan. "Kedepan informasinya bakal bertambah gedung baru milik Pemerintah, dimana salah satunya gedung Fakultas AK Migas dan Lapas terbesar ke dua di Indonesia milik Kementrian Hukum dan HAM RI" pungkasnya.


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011