HEADLINE NEWS

Pungli Prabumulih "Patah Tumbuh Hilang Berganti, Mati Satu Tumbuh Seribu"

PRABUMULIH, PP - Hujan lebat disertai angin kencang dan kilauan petir malam itu memaksa Harun  mengurangi kecepatan laju kenderaannya. Lampu sorot kenderaan yang dikemudikannya seolah tak mampu menembus jarak pandang seperti biasa akibat lebatnya hujan yang turun malam ini. Belum lagi mata yang kurang awas akibat faktor usia yang tidak lagi muda. 

Takut terjadi sesuatu dijalan, sejenak terpikir sebaiknya beristirahat barang sebentar sembari menunggu hujan agak reda. 

Tiba di kawasan Jalan Jenderal Sudirman kawasan air mancur,  truk Fuso beroda sepuluh yang di kemudikannya mulai melambat. Di belakang setir matanya sibuk menoleh ke kanan dan kiri. 


  • Untuk menghilangkan rasa kantuk akibat capek menyetir sepanjang jalan Muara Enim - Prabumulih, Harun bermaksud istirahat sejenak untuk makan dan minum kopi sekedar menghangatkan tubuhnya yang sudah senja. Didalam truk ia menghidupkan klakson mobilnya seraya menyalakan lampu sein ke kiri dan tak lama kemudian memarkirkan kenderaan truk bermuatan barang tersebut di pinggir jalan.

Usia senja Harun tak menyurutkan semangatnya untuk terus bekerja meski sejuta tantangan kerap menghampiri dirinya. Baik itu yang datang dari Illahi, seperti hujan, angin kencang, banjir maupun tantangan yang datangnya dari sesama Manusia sebut saja pungutan liar (Pungli) di tengah jalan dan tantangan penodongan.

"Pesen kopi mbak" ujar Harun kepada Yanti pemilik warung kios di pinggiran jalan Sudirman kawasan Air Mancur. Di warung kecil tersebut Harun bertemu dengan sesama profesi (Sopir Angkutan) yang baru saja melewati Kota Prabumulih ke Arah Palembang.

"Aman Lek di jalan" ujar Yanto yang lebih dulu beristirahat di warung Yanti. 

"Mana ada amannya truk lewat dari Prabu mas. Ini aja tekor. Habis semua uang jalan. Makan malam ini terpaksa pakai duit pribadi" timpal Harun bernada logat jawa menjawab pertanyaan Yanto. 

Yanti yang mendengar pembicaraan dua orang sopir tersebut hanya bisa diam. Meski sesungguhnya Yanti ingin terlibat dalam pembicaraan tersebut. Namun apa daya, dirinya hanya seorang perempuan biasa yang tak berdaya menghentikan keadaan sebab Kota Kelahirannya ini kerap di cap sebagai Kota Pungli. Ingin rasanya ia bertindak menghentikan Pungli yang selalu meresahkan para sopir angkutan.

"Masih rame opo lek mereka (pelaku Pungli-red) disana" timpal Tono yang duduk paling ujung seraya menyeruput kopi di depannya. Tono mencoba mencari informasi dari Harun sebab dirinya malam ini akan berangkat ke Lahat yang sudah barang pasti akan berlintasan dengan mereka pelaku Pungli di tengah jalan. Setidaknya dengan informasi dari Harun, Tono dapat memperhitungkan waktu dan budget agar tidak terlalu dalam terkuras.

Mengapa tidak, Kota ini memang tidak pernah bersih dari Pungli. Meski Sel Penjara di Sukajadi dan Polres Prabumulih telah penuh, masih saja tak menyurutkan niat pelaku pungli untuk bertobat. Bak Pepatah TNI, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Mati Satu Tumbuh Seribu rasanya tepat di sematkan pada mereka. 

Sejurus kasus yang kerap meresahkan pengguna jalan terlebih para supir angkutan, warga Kota Prabumulih berharap tindakan tegas dari aparat kemanan dan juga Pemerintah Kota Prabumulih. Jangan sampai oleh perilaku segelintir orang, Kota Tercinta Prabumulih di cap sebagai "Kota Pungli"

Karena bukan tidak mungkin, pembicaraan sesama sopir angkutan di warung kopi Yanti bisa saja sampai ke telinga masyarakat luar.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Situs Berita Online POSMETROPRABU.COM. Pertama dan Terbesar di Kota Prabumulih. Terbit sejak Juni 2011